Pelukan Terakhir di Balik Tragedi Subuh Klenteng Karimun

poparts.id – Isak tangis meledak di Kabupaten Karimun, Kepri setelah si jago merah mengamuk dan menghanguskan sebuah ruko dua lantai. Tragisnya, seorang ibu dan dua anaknya yang masih belita tewas terjebak di dalam kepulan asap tebal.

Pagi itu, Senin, 2 Maret 2026, langit di jalan Pertambangan, Tanjungbalai Karimun belum sepenuhnya terang. Semburat merah yang merona di langit ternyata dari amuk api yang melahap sebuah ruko sekaligus tempat ibadah (klenteng) milik Kusdiro.

Di dalam bangunan dua lantai, sebuah drama pilu sedang mencapai puncaknya. Seorang ibu, FL (31), bersama dua buah hatinya yang masih balita, AEA (3,5) dan SVA (2), terjebak dalam kepungan asap yang mencekik.

Laporan pertama masuk pada pukul 05.15 WIB. Kusdiro, sang pemilik ruko, terbangun oleh telepon darurat dari tetangga yang melihat asap hitam membumbung tinggi. Dengan tangan gemetar, ia mencoba membuka pintu ruko, namun yang ia temui adalah “naga merah” yang sudah menguasai lantai satu.

Dengan cepat, api merambat naik, menjilat lantai dua tempat di mana menantu dan cucu Kusdiro sedang terlelap.

Pukul 05.50 WIB, dua unit mobil Damkar tiba. Sirine menderu, memecah kesunyian subuh berubah menjadi histeri. Di sinilah perjuangan heroik sekaligus menyedihkan itu dimulai.

Petugas Damkar mencoba merangsek masuk melalui tangga darurat dengan perlengkapan Breathing Apparatus. Namun, panas di dalam ruko diperkirakan mencapai ratusan derajat Celsius. Beton mulai retak, dan jarak pandang nol akibat asap pekat.

Petugas mendengar suara gemeretak kayu yang jatuh, namun tak ada lagi suara tangisan anak-anak. Tim evakuasi harus menjebol akses dari lantai atas menggunakan tangga lipat.

Saat api mulai bisa dikendalikan di beberapa titik, petugas berhasil mencapai sebuah ruangan di lantai atas. Di sana, di tengah sisa kepulan asap, petugas menemukan pemandangan yang membuat nyali para lelaki tangguh itu menciut.

Ketiga korban ditemukan dalam posisi yang sangat menyayat hati. Sang ibu, FL, tampak berusaha melindungi kedua anaknya dalam sebuah dekapan terakhir. Seolah dalam detik-detik napas terakhirnya, ia masih mencoba menjadi perisai bagi AEA dan SVA dari panasnya maut.

Mereka dengan hati-hati di evakuasi. Takada kata-kata yang bisa menggambarkan suasananya. Hening, hanya ada sisa suara air dari selang petugas Damkar. “Api sudah terlalu besar di lantai bawah, tidak mungkin ditembus,” ujar Kapolsek Balai, AKP Andri Yusri.

Bangunan itu kini menyisakan arang dan puing-puing kenangan. Ketiga jenazah langsung dilarikan ke RSUD M. Sani untuk proses lebih lanjut.

Lurah Tanjungbalai, Azrizal, mengonfirmasi bahwa meski mereka tinggal di sana, identitas kependudukan mereka masih tercatat di Kelurahan Kavling mengikuti sang mertua. Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami penyebab pasti titik api di lantai satu yang menjadi awal malapetaka ini.

Editor: Aulia Ichsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *