Blog

  • Geylang: Saat “Lampu Merah” Bertemu Cahaya Ilahi

    Geylang: Saat “Lampu Merah” Bertemu Cahaya Ilahi

    Siapa bilang Geylang cuma soal hiruk-pikuk prostitusi atau godaan aroma durian yang menusuk hidung? Kalau kamu jalan pelan-pelan di antara Lorong 1 sampai 44, kamu akan sadar kalau Semesta sebenarnya sedang bermain peran sebagai “Manager Keseimbangan” yang sangat handal.

    Di balik ruko-ruko tua dan neon-neon pub yang berkedip genit, ternyata ada harmoni yang unik. Bayangkan saja, di wilayah yang dicap “merah” ini, ada delapan gereja, dua masjid, dan—pegangan dulu—sekitar 35 kuil Hindu dan Budha! Geylang seolah menjadi arena di mana godaan duniawi dan panggilan langit hidup berdampingan, cuma terhalang beberapa langkah trotoar.

    Salah satu bintang utamanya adalah Masjid Khadijah. Berdiri sejak 1920 (hasil wakaf mulia Ibu Katijah Binte Mohamed), masjid ini tampil stand-out di jalan utama Geylang. Di sekelilingnya? Ada kedai makan yang riuh, penjual durian yang sibuk berteriak, sampai pub-pub tempat hiburan malam bersembunyi.

    Meski era sekarang sudah bergeser ke ranah online—di mana para penjaja diri tak lagi banyak terlihat “nongkrong” di pinggir jalan—tapi aura Geylang tetap sama: penuh kontradiksi.

    Waktu salat Ashar kemarin, saya sempat melamun sambil memandangi arsitektur unik masjid ini. Saya membayangkan skenario-skenario kecil yang barangkali sering terjadi di sini:

    Ada laki-laki yang niat awalnya mau “jajan” ke pub, tapi tiba-tiba dengar suara adzan berkumandang atau tak sengaja melihat menara Masjid Khadijah. Cess! Hatinya mendadak adem, niatnya langsung U-turn balik ke jalan yang benar.

    Perempuan-perempuan yang mencari nafkah di kerasnya Geylang, mungkin tiap hari hatinya “disiram” secara tidak langsung oleh suasana religi di sana. Siapa tahu, lewat lantunan doa yang terdengar sayup-sayup, ada sebait harapan baru yang tumbuh.

    Bukan tidak mungkin ada sosok yang sempoyongan keluar pub, lalu malah berakhir bersimpuh di depan kuil atau gereja, menangisi drama hidupnya di bawah langit Singapura.

    Masjid Khadijah bukan cuma sekadar bangunan tua. Ia adalah pengingat visual yang paling jujur. Bahwa di tempat paling gelap sekalipun, cahaya selalu punya celah untuk masuk. Geylang adalah bukti kalau dunia ini bukan soal hitam atau putih saja, tapi soal bagaimana Keseimbangan Semesta bekerja untuk menjaga hati manusia agar tidak benar-benar tersesat.

    Catatan Sultan Yohana punya “nyawa” yang kuat perpaduan antara romansa tipis-tipis suami istri, parenting yang realistis, hingga Rasa Singapura yang eksotis. Tanpa menghilangkan esensi asli: poparts.id menarasikannya lebih fun dan sedikit renyah untuk dibaca.

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!