poparts.id – Di saat layar televisi dan FYP media sosial lagi penuh dengan cuplikan demo mahasiswa yang berakhir “kejar-kejaran” dan adu otot dengan petugas di berbagai daerah, Kepulauan Riau punya cara main yang beda. Alih-alih pakai gas air mata, Kapolda Kepri Irjen Pol. Asep Safrudin justru memilih “senjata” yang jauh lebih ampuh: Menu Buka Puasa.
Melihat situasi nasional yang mulai menghangat, Kapolda Asep langsung gercep (gerak cepat) melakukan langkah preventif biar “virus” anarkis nggak menular ke Bumi Bunda Tanah Melayu. Caranya? Undang seluruh elemen mahasiswa, OKP, hingga Ormas duduk bareng di Hotel Golden View Batam, Kamis 5 Maret 2026 lalu.
Dalam acara bertajuk Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Kelompok Cipayung Plus dkk ini, suasana tegang yang biasanya ada di jalanan berubah jadi hangat. Nggak ada tameng polri atau teriakan orator, yang ada cuma denting sendok dan aroma takjil yang menggoda.
“Penyampaian pendapat itu hak, dijamin undang-undang pula. Tapi ya jangan sampai ngerusak iklim investasi kita, apalagi kita tetanggaan sama Selat Malaka yang strategis banget,” ujar Irjen Pol. Asep Safrudin dengan gaya yang kebapakan namun tetap tegas.
Kapolda menyadari bahwa Batam adalah “anak emas” investasi. Kalau demonya rusuh, investor bisa kabur duluan sebelum sempat pesan kopi. Makanya, menjaga keamanan bukan cuma tugas polisi, tapi juga hasil collab bareng mahasiswa dan masyarakat.
Bukan cuma kasih wejangan, Kapolda Kepri juga membagikan 160 paket bingkisan Ramadan secara simbolis. Sepertinya ini strategi win-win solution: Mahasiswa pulang dengan hati adem, perut kenyang, dan tangan bawa bingkisan.
Arba Udin, Panglima Gagak Hitam yang mewakili ormas dan pemuda pun setuju. Dia berpesan supaya teman-teman mahasiswa tetap jadi teladan. Intinya: Boleh kritis, tapi harus tetap manis.
Selain Kapolda, hadir juga: Wakapolda Kepri Brigjen Pol. Anom Wibowo dan petinggi Polda Kepri & Kapolresta Barelang. Serta Tokoh Mahasiswa: Ketua PMII, HMI, hingga KAMMI Kepri. Dengan langkah gercep ini, Kapolda Kepri membuktikan kalau komunikasi yang baik bisa jadi peredam konflik yang paling mujarab.
Editor: Aulia Ichsan
