poparts.id – Senin, 2 Februari 2026. Perairan Pulau Lingga lagi tenang-tenangnya… sampai tiba-tiba ada satu kapal High Speed Craft (HSC) tanpa nama lewat dengan gaya mau balapan.
Petugas Bea Cukai yang lagi patroli jelas curiga. Ditanya baik-baik? Kagak. Disuruh berhenti? Malah makin tancap gas!
Terjadilah aksi salip-menyalip ala film aksi di tengah laut. Nah, di sini bagian kocak sekaligus nekatnya. Karena sadar nggak bakal bisa menang adu speed, para kurir ini milih jalur ekstrim: Nandasin kapal langsung ke hutan bakau!
Begitu kapal nyangkut di akar-akar mangrove, kurirnya langsung parkour! Mereka lompat ke laut dan menghilang di balik rimbunnya hutan bakau. Kapalnya ditinggal gitu aja, persis kayak diputusin pas lagi sayang-sayangnya.
Apa isinya?
Dalam keterangan resminya, Kamis 5 Februari 2026, Kepala Kantor Bea Cukai Batam, Agung Widodo bilang pas digeledah sama tim Bea Cukai Batam, ternyata isinya bukan sembarang paket. Ada 29 kotak styrofoam berisi ribuan plastik benih lobster jenis Pasir dan Mutiara.
Tahu nggak estimasi nilainya berapa?
Rp 23,1 miliar!
Uang segitu kalau dibeliin seblak, mungkin satu kabupaten bisa kenyang setahun ya? Tapi tenang, endingnya happy. Ratusan ribu benih lobster ini nggak jadi “hilang”, tapi langsung dilepasliarkan kembali ke rumah aslinya di Perairan Pulau Abang.
Sekarang, petugas lagi fokus nyari siapa “bos besar” di balik drama mangrove ini. Pelajaran buat kita: Jangan main-main sama kekayaan laut kita, karena alam selalu punya cara buat ngadu!
Menurut kalian, hukuman apa yang pas buat penyelundup yang hobi main petak umpet di bakau begini? Tulis di kolom komentar ya!
Editor: Aulia Ichsan
