poparts.id – Selasa siang itu, 31 Maret 2026, matahari di langit Batam sedang terik-teriknya. Bagi Indah Suci Anisa, siswi kelas lima sekolah dasar, terik itu tak jadi soal. Di kepalanya mungkin hanya ada bayangan rumah, makan siang hangat, dan pelukan keluarga. Namun, langkah mungilnya di Jalan Laksamana Bintan, Sungai Panas, terhenti.
Sebuah minibus merah meluncur lepas kendali. Dalam hitungan detik, keceriaan pulang sekolah itu pecah oleh dentuman keras. Tubuh Indah terlempar beberapa meter. Aspal yang tadinya panas, basah oleh darah.
Di sinilah nurani dipertaruhkan. Alih-alih menginjak rem, pengemudi berinisial WZ (29) justru memacu pedal gasnya lebih dalam. Ia melesat pergi, meninggalkan bocah sepuluh tahun itu sendirian di tengah jalan, bertarung nyawa dalam sunyi yang mencekam.
Pelarian WZ tidak berlangsung lama. Rekaman CCTV menjadi saksi. Kapolresta Barelang, Kombes Pol Anggoro Wicaksono, mengonfirmasi bahwa sang “sopir maut” kini telah diringkus. “Pelaku kini telah diamankan dan tengah menjalani pemeriksaan intensif di Satlantas Polresta Barelang,” tegas Kombes Pol Anggoro.
Meski tersangka telah ditangkap, duka di kediaman Indah belum memudar. Kini, pemandangan kursi sekolah Indah berganti menjadi ranjang putih di ruang ICU Rumah Sakit Budi Kemuliaan.
Bocah itu sedang berjuang melewati masa kritis akibat gegar otak serius. Suara tawa yang biasanya memenuhi rumah, kini digantikan oleh bunyi ritmis mesin pemantau jantung. Selang-selang medis menjadi penyambung hidup bagi tubuh mungil yang dihantam kuda besi tersebut.
Tragedi ini membuka tabir hitam fasilitas keselamatan jalan di Batam. Kasat Lantas Polresta Barelang, Afiditya Arief Wibowo, menyoroti fakta pahit di lokasi kejadian: tidak ada zebra cross.
“Seharusnya di dekat sekolah wajib ada zebra cross. Ini akan kami koordinasikan dengan pemerintah agar segera dilengkapi,” ujar Afiditya, Sabtu, 4 April 2026.
Jalan Laksamana Bintan, khususnya di depan SD Negeri 001 Batam Kota, seolah menjadi sirkuit maut bagi pejalan kaki. Ketiadaan fasilitas penyeberangan dan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) membuat anak-anak sekolah harus bertaruh nyawa setiap kali kaki mereka menyentuh aspal jalan raya.
Kini, doa-doa terus mengalir untuk Indah. Keluarga berharap ia segera terbangun, kembali mengenakan seragam merah-putihnya.
Editor: Aulia Ichsan
