poparts.id – Bayangkan, niat hati ingin melunasi hutang dan memperbaiki ekonomi keluarga, tapi caranya justru menjemput maut. Inilah kisah sepasang suami istri di Bintan, Kepri yang nekat nyambi jualan sabu. Bukannya untung yang didapat, mereka justru harus rela merayakan “perpisahan” di balik jeruji besi.
Suasana sebuah kamar hotel di Kota Tanjungpinang pada akhir Januari lalu seketika tegang. Harum aroma liburan berganti menjadi aroma penggerebekan saat petugas Satresnarkoba Polres Bintan mendobrak masuk.
Di sana, petugas menemukan pria berinisial NF bersama istrinya, DL, dan seorang rekan mereka, ML, sedang asyik “pesta” narkoba. Tak ada lagi kata menghindar, alat hisap sabu atau bong yang masih tergeletak di lokasi menjadi barang bukti.
Awalnya, polisi hanya menemukan sisa-sisa kesenangan sesaat berupa nol koma nol empat gram sabu di rumah ML. Namun, kejutan sebenarnya baru terungkap saat petugas menggeledah kediaman sang suami, NF.
Polisi menemukan sebuah koper hitam yang isinya bikin geleng-geleng kepala: 20 paket sabu seberat hampir dua kilogram!
Usut punya usut, NF dan istrinya nekat menjemput barang haram ini di Pantai Sakera, Bintan, atas perintah seorang DPO berinisial FS. Alasan klasiknya? Apalagi kalau bukan tergiur bayaran Rp 20 juta demi menutup lubang hutang yang kian menganga.
Sial bagi mereka, uang Rp 50 juta yang dijanjikan sang bandar ternyata mimpi di siang bolong. Sebagai gantinya, kini mereka harus menghadapi realita pahit.
Dalam keterangan resminya pada Kamis 26 Februari lalu, Kapolres Bintan, AKBP Argya Satrya Bahwana, mengonfirmasi temuan besar ini.
Sementara Kasat Narkoba Polres Bintan, Iptu Reka Geofanni, menjelaskan bahwa tiap pelaku punya peran masing-masing—termasuk ML yang bertugas mengawasi distribusi.
Kini, dua kilogram sabu tersebut dimusnahkan dalam air mendidih. Namun bagi NF, DL, dan ML, “air mendidih” yang sebenarnya baru saja dimulai. Mereka terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.
Pelajaran moralnya? Hutang memang berat, tapi memakai jalur narkoba justru akan membuat hidup Anda jauh lebih berat—bahkan sebelum Anda sempat mencicipi upahnya.
Editor: Aulia Ichsan
