Pesanan Narkoba Tak Kunjung Datang, User di Batam Nekat Tikam Bandar Dengan Karambit

poparts.id – Niat hati membeli kesenangan semu, berujung luka menganga di tubuh. Sebuah transaksi narkotika di Batam berubah menjadi tragedi berdarah. Lantaran pesanan tak kunjung datang sementara uang telah berpindah tangan, sebilah karambit pun menjadi pelampiasan dendam.

Senin, 9 Maret 2026 siang. Di tengah teriknya matahari di Perumahan Batam Park, Blok D, Lubuk Baja, sebuah jeritan memecah keheningan. Agus Suwandi, seorang pemuda berusia 26 tahun, tersungkur bersimbah darah.

Ia bukan korban perampokan biasa. Berdasarkan penyelidikan, Agus diduga merupakan perantara atau bandar yang gagal memenuhi janji. Sang eksekutor, Aditia, gelap mata setelah uangnya raib sekitar Rp1 juta namun barang haram yang dijanjikan tak kunjung tiba.

Amarah yang memuncak membuat Aditia mencabut senjata mematikan, sebilah pisau karambit. Tanpa ampun, senjata melengkung itu menghujam tubuh korban. Tiga luka menganga bersarang di bagian bokong dan menembus tulang rusuk.

Nurdin, ayah korban, hanya bisa terduduk lemas saat pihak Rumah Sakit Santa Elizabeth mengabarkan kondisi putranya yang kritis. Tak butuh waktu lama bagi Nurdin untuk membawa kasus ini ke kantor
polisi.

Ditemui Jumat, 13 Maret 2026, Wakapolsek Lubuk Baja, AKP Theo menjelaskan bahwa pelarian pelaku berakhir di sebuah hotel di kawasan Nagoya. Tim Gabungan Opsnal Jatanras Polda Kepri, Polresta Barelang, dan Polsek Lubuk Baja berhasil mengepung persembunyiannya pada Rabu malam, 11 Maret 2026.

Tanpa perlawanan berarti, pemuda asal Tanjung Uma ini mengakui semua perbuatannya. Karambit yang digunakan untuk menghabisi korban serta satu helai baju kaos hitam bertuliskan “FRONTLINE” milik korban kini menjadi bukti.

Kini, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia dijerat dengan pasal Penganiayaan Berat, Pasal 469 ayat 1 atau Pasal 467 KUHP. Takhanya itu, Satuan Narkoba Polresta Barelang juga mengembangkan dugaan keterkaitan pelaku dengan narkotika.

Lingkaran hitam narkotika kembali membuktikan bahwa tidak ada kawan sejati di dalamnya, yang ada hanyalah pengkhianatan dan kekerasan!

Editor: Aulia Ichsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *