Cerita Dua Nelayan Cumi Asal Bangka yang Dinanti Pulang

poparts.id – Panik. Saat sebagian orang terlelap tidur, sebuah kapal nelayan pencari cumi harus bertaruh nyawa setelah berpapasan dengan kapal tongkang di tengah laut.

Minggu dini hari, 12 Juli 2026, jarum jam baru saja melewati pukul satu malam. Di bawah kegelapan Perairan Utara Bangka Sungailiat, empat nelayan tangguh yang berangkat dari Pelabuhan Jelitik sejak sepekan lalu, sedang fokus memancing cumi.

Namun, kesunyian malam pecah seketika. Sebuah kapal tongkang besar melintas dan menghantam kapal kecil mereka di koordinat 0° 55.764′ S 106° 23.135′ E. Kapal nelayan itu pun karam dalam hitungan menit.

Beruntung bagi Udin dan Umin. Di tengah kepanikan dan dinginnya air laut, solidaritas sesama nelayan menjadi juru selamat. Mereka berhasil dievakuasi oleh kapal nelayan lain yang berada di sekitar lokasi.

Sayangnya, dewi fortuna belum berpihak pada dua rekan mereka. Yudi dan Yudika, hingga saat ini masih dinyatakan hilang.

Mendengar kabar tersebut, Basarnas Tanjungpinang langsung tancap gas! Bekerja sama dengan Kansar Pangkalpinang, Tim Rescue dari Unit Siaga SAR Lingga langsung diterjunkan ke lokasi.

Tapi, saat itu kondisi laut tidak bersahabat.
Kecepatan angin menembus 16 knots dari arah selatan. Kecepatan arus: 1.1 Knots menuju utara serta tinggi gelombang mencapai 1.2 hingga 1.5 meter.

Meski ombak setinggi dada orang dewasa, Tim SAR Gabungan menolak pasrah. Selain menyisir lokasi, Basarnas juga sudah ‘meneriakkan’ sinyal darurat atau broadcast pemapelan ke seluruh kapal komersil dan kapal pencari ikan yang melintas di area tersebut.

Prinsipnya sederhana: makin banyak mata yang melihat, makin besar peluang Yudi dan Yudika ditemukan.

Editor: Aulia Ichsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *