Senyum Wisman, Sesak Warga Lokal

poparts.id – Di pelabuhan Batam, lonceng emas seolah berbunyi bagi pariwisata. Namun, di pasar-pasar tradisional dan rak supermarket, suara itu terdengar seperti alarm bahaya bagi warga lokal. Inilah wajah Batam di tengah turbulensi Rupiah: satu kota, dua realitas yang saling bertolak belakang.


Bagi warga Singapura dan Malaysia, anjloknya Rupiah bukan sebuah krisis. Ini adalah karpet merah. Dengan kurs yang semakin perkasa, Batam menjelma menjadi toko diskon raksasa.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat tren kunjungan yang fantastis sepanjang tahun 2026.

Pada Januari: 126.620 kunjungan, Februari: 131.308 kunjungan dan Maret: 114.837 kunjungan.

Singapura mendominasi arus kedatangan, disusul Malaysia, China, hingga India.
Kelancaran layanan feri dan sistem autogate keimigrasian yang kini lebih efisien menjadi pintu masuk mulus bagi mereka untuk memanfaatkan kurs Rupiah yang sedang lemah.

Fahri Hafiz, salah seorang wisatawan Singapura menilai, liburan di Batam kali ini lebih murah. “Di sana, 7 Dolar Singapura cuma makan untuk satu orang, di sini (Batam) boleh satu keluarga,” kata Fahri ditemui poparts.id, Senin, 8 Juni 2026.

Namun, hanya beberapa langkah dari kasir tempat para wisman bertransaksi, narasi yang berputar justru jauh dari kata gembira.

Bagi warga lokal, pelemahan Rupiah adalah hantu yang nyata. Saat wisman memborong stok kebutuhan pokok, harga-harga di rak justru merangkak naik, mengikuti inflasi yang dipicu tekanan kurs.

Inilah ironi yang menyelimuti Batam. Sektor pariwisata bertepuk tangan karena angka kunjungan melonjak, merayakan devisa yang masuk.

Namun di sisi lain, denyut nadi kehidupan warga lokal justru melambat, terhimpit di antara harga yang melambung dan stok yang terserap habis oleh mereka yang memiliki daya beli lebih tinggi.

Editor: Aulia Ichsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *