72 Jam dalam Lambung Kapal Terbalik

poparts.id – Kegelapan di dalam lambung Tugboat ASL Mega bukan sekadar gelap tanpa cahaya. Bagi Yusuf Tangkil (57), itu adalah kegelapan yang pekat, dingin, dan berbau karat, di mana setiap detik yang berlalu terasa seperti jam yang merambat lambat menuju ajal.

Pagi buta, Minggu 8 Maret 2026, sebuah mukjizat pecah. Di tengah pesimisme yang menyelimuti tim SAR, Yusuf ditemukan masih bernapas. Tiga hari setelah kapal tunda yang ia awaki terbalik dan menelan tiga nyawa rekannya, pria asal Samarinda ini membuktikan bahwa batas antara hidup dan mati terkadang hanya sekat tipis bernama harapan.

Ingatan Yusuf masih tajam merekam horor yang terjadi tiga hari sebelumnya. Sore itu, Tugboat Mega sedang bertugas melakukan assist pada raksasa laut, MV Kyparissia. Kapal kargo itu begitu masif, berukuran sekitar 255.000 GT, kontras dengan tugboat yang ia awaki.

“Tiba-tiba kapal miring dan langsung tenggelam,” kenang Yusuf dari tempat tidurnya di RS Mutiara Aini Batam.

Suasana berubah mencekam dalam hitungan detik. Teriakan “Karam! Karam!” memecah udara, bersahutan dengan bunyi besi yang mengerang hebat. Yusuf tidak sempat melompat. Saat air laut mulai merangsek masuk dan memenuhi rongga mulutnya, ia terseret ke bawah, terkunci di dalam perut besi yang perlahan turun ke dasar laut.

Di tengah kepanikan, insting bertahan hidup Yusuf menuntunnya ke kamar kru. Di sana, ia menemukan sebuah fenomena fisik yang menjadi penyelamat nyawanya: air pocket atau kantong udara. Oksigen terperangkap di sudut ruangan kedap yang tidak terisi air sepenuhnya.

Selama 72 jam, Yusuf meringkuk di ruang sempit itu. Ia terisolasi dari dunia luar, hanya ditemani suara gesekan logam dan air yang tenang namun mematikan. Tanpa makanan, tanpa cahaya, ia hanya bisa berdoa dan menghirup sisa-sisa oksigen yang kian menipis.

“Saya masuk ke kamar kru yang di sana ada ruangan kedap udara,” tuturnya lirih. Di sana pula, ia harus menelan pahitnya kenyataan bahwa tidak semua rekannya memiliki nasib yang sama.

Bertahan dalam Air Pocket

Operasi SAR hari ketiga dimulai lebih awal, pukul 04.30 WIB. Tim penyelam dari PT ASL Batam terjun ke air tanpa ekspektasi muluk. Namun, saat cahaya senter mereka membelah kegelapan ruang mesin, mereka menemukan sosok yang masih bergerak.

Hanya butuh sepuluh menit bagi tim untuk menarik Yusuf dari “penjara” besinya. Penemuan ini menandai akhir dari misi pencarian yang melelahkan.

Kepala Kantor SAR Tanjungpinang, Fazzli, mengonfirmasi bahwa dari total 5 korban, 2 dinyatakan selamat termasuk Yusuf, sementara 3 lainnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, yang menjenguk korban, menyoroti teknis kejadian tersebut. Diduga, Tugboat Mega terbalik akibat gelombang besar yang ditimbulkan oleh pergerakan kapal assist lainnya saat mencoba bermanuver di dekat MV Kyparissia.

“Kapal bisa terbalik sampai 45 derajat karena arus dari kapal assist besar yang menimbulkan gelombang dari kanan dan kiri,” jelas Nyanyang. Ia menekankan pentingnya evaluasi standar keselamatan kerja di area pelabuhan agar tragedi serupa tidak terulang.

Kini, bagi Yusuf Tangkil, setiap hirupan napas adalah bonus dari Tuhan. Keluar dari lambung kapal yang tenggelam setelah tiga hari bukan sekadar soal keberuntungan fisik, melainkan sebuah narasi tentang ketangguhan jiwa manusia di hadapan maut yang mengintai dalam sunyi.

Editor: Aulia Ichsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *