poparts.id – Di balik pagar tinggi dan gerbang megah Taman Golf Residence, Sukajadi, Batam, sebuah pemandangan kontras tersaji, pada Kamis 21 Mei lalu. Di kawasan hunian orang-orang berpunya ini, sebuah rahasia tersimpan rapat selama dua tahun lamanya. Bukan tentang kemewahan, melainkan tentang mesin penguras uang rakyat: sindikat judi online jaringan internasional.
Operasi kepolisian memang berhasil menggulung tiga pelaku. Namun, setelah penggerebekan itu mengendap, justru muncul satu pertanyaan besar yang menggantung di udara: Di mana aparat selama dua tahun terakhir?
Sangat sulit membayangkan bagaimana praktik ini berjalan mulus tanpa gangguan sejak 2024. Para pelaku terbilang cukup gesit; mereka bahkan sempat berpindah lokasi sebanyak dua kali untuk menghindari deteksi. Namun, pertanyaan mendasar adalah efektivitas pengawasan di lapangan.
Kejanggalan kian mencolok saat polisi menyebut barang bukti yang disita hanya bernilai Rp1 miliar lebih. Angka yang terlihat besar di atas kertas, namun menjadi tampak “kecil” jika melihat fakta bahwa uang sebanyak itu diklaim hanya hasil transaksi selama tiga hari saja.
Jika dalam 72 jam mereka mampu meraup satu miliar rupiah, maka secara matematis, omzet jaringan ini per bulannya bisa mencapai belasan miliar rupiah. Jika ditarik garis lurus selama dua tahun beroperasi, ke mana perginya aliran dana yang luar biasa masif tersebut? Apakah hanya berhenti di tangan tiga orang operator yang kini diangkut polisi tersebut?
“Tersangka berinisial HR berperan sebagai pengelola utama,” kata Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol M. Debby Tri Andrestian, dalam keterangannya, Senin, 25 Mei 2026.
HR bukanlah pion sembarangan; ia menjadi jembatan yang terkoneksi langsung dengan perusahaan induk di Filipina, sementara tim marketing dan operator lapangan beroperasi dari Kamboja.
Ini bukan sekadar judi “kaleng-kaleng”. Ini adalah industri rapi dengan manajemen yang terstruktur.
Lantas apakah ini benar-benar sebuah keberhasilan penegakan hukum, atau sekadar “pembersihan” untuk pengalihan isu? Atau, mungkinkah selama dua tahun ini ada “perisai” kuat sosok “orang besar” di balik layar yang sengaja membiarkan mesin ini terus berputar? Polisi berjanji akan terus mendalami aliran dana dan kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam jaringan internasional ini.
Editor: Aulia Ichsan
