poparts.id – Dunia per-BBM-an mendadak jadi perbincangan oleh kalangan pengusaha di Kota Batam, Kepulauan Riau. Bayangkan saja, ada 3.000 kiloliter Fatty Acid Methyl Ester (FAME) bahan baku biodiesel diduga masuk tanpa izin dari Kementerian ESDM. Terduga pelakunya sebuah perusahaan hilir migas di Tanjunguncang. Disebut-sebut, bahan baku biodisel ini telah tercampur dengan minyak mentah sebelum diuji lab.
Ceritanya, FAME asal Malaysia dan Singapura ini sukses melenggang masuk ke Batam sekitar bulan Mei-Juni kemarin. Hebatnya, lewat celah sistem yang bikin bingung, dokumen awalnya sempat dikira aman-aman saja. Padahal, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM terbaru, keran impor FAME itu dikunci rapat demi melindungi produk lokal dan mendukung program mandatori biodiesel nasional.
Yang bikin seru, FAME impor seberat 3.000 kiloliter ini diduga telah dicampur (blended) dengan FAME lokal dan minyak mentah di dalam satu tangki turbion yang sama.
“Apakah ini jurus canggih buat mengaburkan jejak barang impor, atau sekadar ketidaktahuan yang disengaja?” tanya narasumber yang minta identitasnya dirahasiakan itu kepada poparts.id, pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Pengusaha ini menduga di balik ini, ada faktor klasik birokrasi: belum sinkronnya aturan antar-instansi.
“Salah satu instansi ngeluarin izin karena di sistem mereka kodenya gak masuk daftar larangan, eh ternyata dari sisi Kementerian ESDM aturannya ketat banget dan PT MAB tercatat enggak punya kuota impor FAME. Istilahnya, regulasinya jalan masing-masing, perusahaannya yang bingung,” singgung dia.
Pebisnis niaga ini juga menilai, belum lagi ada bisik-bisik soal potensi “tekanan halus” dari berbagai pihak agar campuran ini tetap boleh dijual demi mengejar target kontrak sama pelanggan.
“Untuk membuktikan ini, harusnya aparat dan instansi terkait turun untuk menguji dan menyampaikan hasil lab dengan transparan kepada publik,” imbuhnya.
Hingga berita ini diturunkan, poparts.id tengah mengonfirmasi tanggapan resmi serta hak jawab dari manajemen perusahaan. Seluruh keterangan lanjutan dari pihak perusahaan nantinya akan segera kami muat secara objektif sebagai bagian dari komitmen keterbukaan informasi publik.
Editor: Iko
