poparts.id – Lagi-lagi Batam jadi lapak penipu. Sebanyak 210 WNA lintas negara Vietnam, Tiongkok, sampai Myanmar digulung tim Ditjen Imigrasi di sebuah apartemen elit di kawasan Lubuk Baja, Rabu pagi kemarin. Gak tanggung-tanggung, barang buktinya bejibun. Ada ratusan laptop, CPU, sampai mesin penghitung uang. Modusnya klasik: Scam Trading. Targetnya? Orang luar negeri di Eropa sana. Batam cuma dijadikan kantor biar aman dari endusan hukum negara mereka.
Lucunya, pas digerebek petugas, gerombolan WNA ini mendadak “planga-plongo”. Saat diinterogasi, mereka kompak pasang muka tembok dan mengaku tak pandai bahasa Indonesia. Satu kata pun tak keluar, seolah-olah cuma turis lugu yang lagi nyasar di apartemen sambil pegang ratusan HP.
Padahal, secara administrasi, mereka ini “sakti”. Ada yang pakai Bebas Visa Kunjungan (BVK), Visa on Arrival (VoA), bahkan ada satu orang yang pegang Izin Tinggal Terbatas Investor. Investor apa yang kerjanya di dalam kamar apartemen tertutup sambil nipu orang?
Pertanyaan besar: siapa pemain lokalnya?
Yang bikin publik Batam gatal adalah sikap Imigrasi yang terkesan malu-malu. Sampai detik ini, pihak Imigrasi belum berani atau spill menjelaskan siapa sponsor lokal atau perusahaan cangkang yang memfasilitasi ratusan WNA ini.
Logikanya sederhana: Gak mungkin 210 orang asing masuk dan sewa apartemen dalam jumlah besar tanpa ada “penjamin” atau orang lokal yang buka jalan. Alat-alat kantor sebanyak itu gak mungkin turun dari langit tanpa ada perusahaan yang mengkoordinir.
“Kita mengamankan 10 paspor yang diduga milik pengendali di lokasi lain,” ujar Kepala Kantor Imigrasi Batam Wahyu Eka Putra disela konfrensi pers, Jumat, 8 Mei 2026. Tapi siapa pengendali itu? Masih jadi rahasia negara?
Tapi, warga Batam sudah bosan lihat drama begini. Tangkap, rilis, deportasi. Selesai. Padahal, ada Undang-Undang Keimigrasian Pasal 75 yang bisa menyeret mereka lebih dalam. Jika Imigrasi cuma berani main di level administratif (deportasi) tanpa membongkar siapa “bekingan” atau perusahaan cangkang di belakangnya, jangan kaget kalau bulan depan muncul lagi grup baru dengan apartemen yang berbeda.
Editor: Aulia Ichsan
