Bisnis Nyawa di Selat Malaka: Ongkos 13 Juta

poparts.id – Kegelapan Minggu, 3 Mei 2026 dini hari di perairan Takong Hiu, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau mendadak pecah oleh raungan mesin speed boat berkekuatan 200 PK. Sebuah kapal cepat bernama Selodang terpantau melaju kencang, membelah ombak demi satu tujuan: Pontian, Malaysia.

Di dalamnya, 14 nyawa berdesakan. Lima perempuan dan sembilan laki-laki yang mencoba mengadu nasib lewat jalur belakang. Namun, harapan para pemburu ringgit Pekerja Migran Indonesia (PMI) non-prosedural harus kandas di tengah laut.


Drama itu bermula sekitar pukul 01.00 WIB. Tim Quick Response Region Naval Command IV dari Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Tanjung Balai Karimun yang sedang berpatroli mengendus pergerakan mencurigakan. Benar saja, saat diminta berhenti, tekong speed boat justru menarik tuas gas sedalam-dalamnya.

Aksi kejar-kejaran yang membahayakan nyawa pun tak terelakkan. Dalam kecepatan tinggi di tengah laut yang gelap, risiko kapal terbalik sangatlah besar. Petugas harus mengambil tindakan tegas. Rentetan tembakan peringatan dilepaskan ke udara, hingga akhirnya tekong berinisial W dan seorang ABK berinisial A menyerah.

Setelah diamankan ke Mako Lanal TBK, terungkaplah kisah pilu di balik keberangkatan mereka. Para PMI ini berasal dari berbagai pelosok daerah di Indonesia. “Mereka nekat berangkat dari Pulau Mecam, Batam, dengan membayar biaya yang tidak murah. Mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 13 juta per orang,” kata Letkol Laut (P) Samuel Chrestian Noya, Danlanal TBK di sela konfrensi pers Senin, 4 Mei 2026.

Bagi calon PMI, uang jutaan rupiah itu adalah modal terakhir demi kehidupan yang lebih baik. Sayangnya, mereka justru jatuh ke tangan penyelundup yang mengabaikan keselamatan.

Fakta mengejutkan terungkap saat petugas melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sang tekong, pria berinisial W berada di bawah pengaruh obat terlarang. Hasil cek urine menunjukkan ia positif mengonsumsi narkotika. Hal ini menambah daftar panjang betapa berbahayanya perjalanan yang ditempuh para migran tersebut.

Kini, 14 warga negara Indonesia yang nyaris celaka itu diserahkan ke pihak P4MI Kepri untuk proses pemulangan ke daerah asal. “Untuk proses hukum bagi sang tekong dan ABK kini berlanjut di kepolisian,” kata Ipda Fedryk S. Harahap, PS Kasat Polairud Polres Karimun. Meski gagal meraih ringgit, setidaknya mereka selamat dari ganasnya Selat Malaka dan risiko kecelakaan laut.

Editor: Aulia Ichsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *