Teatrikal Lakban Hitam dan “Gesekan” Intel di Hari Kebebasan Pers

poparts.id – Suasana di depan Gedung DPRD dan Kantor Pemko Batam mendadak riuh pada Senin, 4 Mei 2026 siang. Bukan karena demonstrasi massa buruh, melainkan puluhan kuli tinta yang tergabung dalam Koalisi Jurnalis Batam, AJI Batam, PFI Kepri, PWI Batam yang turun ke jalan.

Mereka memperingati World Press Freedom Day 2026 dengan satu pesan kuat: Indonesia sedang tidak baik-baik saja bagi para pencari berita.

Aksi dimulai dengan teatrikal yang cukup menyita perhatian pengguna jalan. Seorang jurnalis berdiri mematung dengan mulut ditutup lakban hitam simbol pembungkaman. Di sampingnya, seorang pria berlagak pejabat tampak menarik paksa tangan jurnalis tersebut sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan “Rilis”.

Menurut Ketua AJI Batam, Yogi di sela-sela orasi bahwa ini realita. “Jurnalis dipaksa menelan rilis mentah-mentah tanpa boleh kritis. Swasensor dan intimidasi perlahan membunuh keberanian pers,” kata Yogi.

Awalnya, aksi berjalan tertib dan cenderung dingin meski matahari Batam menyengat. Namun, suasana sempat memanas di detik-detik akhir. Berdasarkan pantauan di lapangan, sempat terjadi ketegangan antara peserta aksi dengan oknum yang diduga intelijen (intel) yang melakukan provokasi di tengah kerumunan.

Beruntung, emosi para jurnalis masih bisa diredam sehingga tidak terjadi bentrokan fisik, meski adu mulut sempat tak terelakkan.

Angka Merah Kebebasan Pers

Data yang dibawa massa aksi memang mengkhawatirkan. Merujuk laporan Reporters Without Borders (RSF), peringkat kebebasan pers Indonesia tahun 2026 merosot ke posisi 129 dari 180 negara. Masuk kategori “Sulit”.

Adapun poin tuntutan Koalisi Jurnalis Batam:

Hentikan kekerasan fisik maupun digital terhadap jurnalis (91 kasus di tahun 2025).

Tolak Swasensor: Jangan biarkan intervensi pihak luar mengatur isi berita.

Perusahaan pers wajib menyejahterakan jurnalis agar profesionalitas terjaga.

Aksi yang juga didukung berbagai elemen masyarakat sipil ini berakhir dengan pengumpulan alat kerja jurnalis sebagai simbol duka cita atas menurunnya indeks kebebasan pers di tanah air. Massa membubarkan diri dengan tertib, meski “hawa panas” sisa gesekan dengan oknum intel masih terasa di lokasi.

Editor: Aulia Ichsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *