Rahasia di Balik Film Pelangi di Mars

poparts.id – Siapa bilang urusan negara cuma soal rapat serius di meja bundar? Kamis 2 April 2026 lalu, suasana di XXI Plaza Senayan berubah jadi ala stasiun luar angkasa. Pasalnya, jajaran menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih kompak berkumpul untuk menyaksikan special screening film “Pelangi di Mars”.

Bukan sekadar nonton bareng biasa, agenda ini adalah misi khusus dari Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) untuk memamerkan bahwa perfilman Indonesia sudah siap tancap gas jadi the new engine of growth alias mesin pertumbuhan ekonomi baru kita!

Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, tampak antusias memperkenalkan film ini. Menurutnya, Pelangi di Mars bukan cuma soal cerita, tapi soal nyali.

Menurutnya, film ini menunjukkan keberanian mengeksplorasi genre science fiction dengan teknologi XR (Extended Reality) yang super imersif. “Ini lompatan besar buat sinema kita!” ujar Pak Menteri dengan bangga.

Senada dengan sang Menteri, sutradara bertangan dingin Upie Guava menyebut proyek ini adalah eksperimen untuk mengisi “celah” teknologi yang selama ini jarang disentuh sineas lokal. Tujuannya? Biar anak-anak Indonesia punya imajinasi setinggi langit (atau setinggi Planet Mars!) dan siap menaklukkan dunia dengan karya kreatif.

Nggak tanggung-tanggung, bioskop hari itu penuh dengan wajah-wajah familiar dari pemerintahan. Mulai dari Wamen Ekraf Irene Umar, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, sampai tokoh idola anak-anak sepanjang masa, Kak Seto Mulyadi.

Kak Seto pun memberikan jempolnya. Menurut beliau, film ini paket lengkap: teknologinya canggih, tapi pesannya tetap membumi soal persahabatan, kejujuran, dan mental pantang menyerah.

Kementerian Ekraf nggak main-main dalam mendukung industri ini. Ke depannya, mereka janji bakal memperkuat fasilitasi akses pasar, promosi, hingga pembiayaan berbasis Kekayaan Intelektual (IP). Targetnya jelas: Film Indonesia nggak cuma jago kandang, tapi juga bisa bikin penonton di seluruh dunia terpukau.

Sinopsis: Pelangi di Mars

Di masa depan, ketika eksplorasi luar angkasa bukan lagi sekadar mimpi bagi bangsa Indonesia, sebuah koloni riset didirikan di Planet Merah. Film ini mengikuti perjalanan sekelompok anak-anak tangguh yang tinggal di stasiun luar angkasa Mars. Di tengah lingkungan yang gersang dan penuh tantangan teknologi, mereka harus menghadapi situasi tak terduga yang menguji keberanian mereka.

Cerita berpusat pada petualangan melintasi lanskap Mars yang asing namun memukau—dihadirkan dengan visual Extended Reality (XR) yang imersif. Bukan sekadar bertahan hidup, anak-anak ini berjuang untuk menemukan “pelangi” di tempat yang secara logika mustahil memilikinya. Dalam perjalanan tersebut, mereka belajar bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan berarti tanpa kejujuran, ketangguhan, dan kesetiakawanan.

Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, mereka harus memecahkan misteri di balik infrastruktur teknologi koloni mereka sebelum segalanya terlambat. Sebuah kisah tentang bagaimana imajinasi anak bangsa mampu menaklukkan dunia (dan luar angkasa), sekaligus membuktikan bahwa harapan selalu bisa tumbuh, bahkan di tanah Mars yang berdebu.

Editor: Aulia Ichsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *